Padukuhan Cangkringan : Perang Sampyuh Tomenggala Melawan Jayaningrat

Padukuhan Cangkringan, yang terletak di Kalurahan Argomulyo, Sleman menyimpan sejarah panjang dan nilai budaya yang kuat. Nama Cangkringan berasal dari pohon cangkring yang tumbuh subur di tepi sungai kecil bernama Sungai Cangkring. Di daerah ini, ditemukan banyak batu candi dan peninggalan masa lalu yang menunjukkan bahwa Cangkringan pernah menjadi pemukiman besar.

Salah satu kisah penting dari Cangkringan adalah Perang Sampyuh yang terjadi antara Demang Tomenggala dan Patih Jayaningrat, dua tokoh dari Keraton Surakarta yang bertarung akibat konflik dengan VOC. Tomenggala memilih membela rakyat dan melarikan diri ke daerah Cangkringan dan didukung oleh masyarakat setempat. Pertempuran hebat terjadi hingga keduanya gugur. Makam Patih Jayaningrat berada di Gadingan, dan hingga kini cerita ini masih dikenang dalam budaya lokal.

Warisan sejarah dan budaya di Cangkringan terus dilestarikan. Salah satunya adalah tradisi Bedhol Songsong, yaitu peringatan pindahnya kantor kapanewon yang digelar setiap tahun dengan pertunjukan seni dan penanaman pohon cangkring sebagai simbol pelestarian alam dan budaya. Cangkringan juga dikenal dengan sumber airnya yang melimpah, ikan endemic dan wader sisik bang kencana, serta tanahnya yang subur.

Sebagai wilayah bersejarah dengan kekayaan alam dan budaya, Cangkringan menjadi pusat pemerintahan dan simbol kehidupan yang tetap mengalir meski pernah diterpa erupsi Merapi.