Upacara Adat Ruwahan Pulesari di Padukuhan Randusari

Padukuhan Randusari, Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman kembali menggelar Upacara Adat Ruwahan Pulesari. Tradisi tahunan yang dilaksanakan setiap bulan Sya’ban atau bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa ini merupakan bentuk selamatan atau syukuran masyarakat Islam dan budaya Jawa. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenang dan menghormati arwah para leluhur yang telah meninggal dunia, sekaligus menjadi sarana persiapan spiritual bagi warga dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Rangkaian acara adat ini telah dimulai sejak beberapa hari sebelum acara puncak, diawali dengan kegiatan Besik Makam, yaitu aksi gotong royong pembersihan area makam oleh para bapak dan pemuda setempat. Pada hari puncak pelaksanaan yang jatuh pada Selasa Legi, 3 Februari 2026, kemeriahan tradisi begitu terasa saat sekitar 700 warga dari RT 1 hingga RT 5 berkumpul di Tugu Padukuhan Randusari. Dengan mengenakan busana adat Jawa gagrag Ngayogyakarta, warga bersama pasukan Bregodo Pulesari melakukan kirab mengarak Gunungan hasil bumi (Uluwetu) menuju Area Makam Pulesari Randusari.

Sesampainya di lokasi makam, prosesi dilanjutkan dengan tabur bunga oleh Sesepuh Adat bersama Dukuh Randusari ke makam almh. Harto Wiyono, yang merupakan Dukuh pertama Padukuhan Randusari. Suasana budaya semakin kental dengan adanya pementasan dari grup Bregada Pulesari serta penampilan musik Jawa religi Hadroh Al-Hidayah. Acara ini juga dihadiri oleh Sekda Kabupaten Sleman, Drs. Susmiarto, MM., yang memberikan apresiasi tinggi karena kemasan acara yang menjunjung erat adat Jawa ini dapat menjadi sarana edukasi budaya yang sangat menarik bagi generasi muda di era modernisasi.

Sebagai inti dari upacara adat, seluruh warga mengikuti prosesi Umbul Donga dan kenduri bersama. Melalui doa bersama ini, masyarakat memohonkan ampunan bagi para leluhur serta memohon kelancaran, keselamatan, dan berkah dalam beraktivitas selama setahun ke depan. Seluruh rangkaian acara kemudian ditutup dengan penuh kebersamaan melalui tradisi kembul bujana atau makan bersama, yang dilanjutkan dengan perebutan Gunungan Uluwetu oleh warga masyarakat yang hadir.