Jathilan Lancur Jiwan (Kridha Turangga Jati Jiwosari)
Kesenian Jathilan Lancur di dusun Jiwan memiliki nama kelompok yakni Kridha Turangga Jati Jiwosari. Kelompok ini berdomisili di Dusun Jiwan, Kecamatan Argomulyo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman. Kelompok ini dibina atau diasuh oleh ketua sekaligus maestro yakni bapak Marsudi MH (65 tahun) yang berdomisili di Wonokerso, Argomulyo, Cangkringan.
Alat yang dimainkan
Melihat alat yang dimiliki oleh Jathilan Krido Turonggo Jati ini adalah alat yang paling mendekati dengan format yang sempat dicatat oleh Pigeaud pada tahun 1930an. Mereka memiliki alat sebagai berikut : (masing-masing di beri gambar)
1. Kendang
2. Bende
3. Angklung telu (3 Pcs)
4. Jeder/ Bem
5. Kecrek
Bentuk angklung dari group Jathilan Krido Turonggo Jati ini cukup menarik dan berbeda dengan angklung-angklung yang berkembang
didaerah lain. Angklung mereka hanya satu tabung, dengan panjang rangka dasar angklung cukup panjang dan besar. Selain itu laras nya juga menggunakan laras pelog (walaupun tidak tuning tetapi masih bisa terbaca).

Musik Iringan dan Jenis Tembang
Seperti alat yang mereka miliki format musik yang mereka mainkan adalah format yang paling mendekati jathilan tahun 1930an menurut Pigeaud. Gending-gending yang mereka mainkan cukup sederhana, tetapi dramatis. Monoton tetapi menyihir. Dimulai dengan bowo macapat dhangdang gulo, mereka memulai pertunjukan. Pak Marsudi melantunkannya hingga selesai dan melambatkan tempo. Kemudian kendang memberi kode buka dan disambut dengan bunyi semua alat musik. Imbal-imbalan angklung yang menjadi dasar atau balunganing gending, Bende dan jeder dipukul diakhir kalimat lagu. Lantunan macapat pak marsudi, menyihir musik yang sederhana ini. Tempo masih lambat, ini yang digunakan untuk mengiringi tarian jathilan di awal pagelaran. Kendang memberi aksen-aksen bunyi kendang ciblon jawa, sebagai penegasan dari tarian-tarian yang sedang dilakukan penari. Berikut notasi yang berhasil dicatat dilapangan:

Alunan musik monoton ini berlangsung ketika penari jathilan masing melakukan gerak dengan tempo-tempo lambat. Ketika penari sudah memulai gerakan cepat, kendang memberi kode tempo agar musik mempercepat temponya. Gerakan-gerakan pasukan kuda ditegaskan oleh kendang. Ketika pemain sudah mulai Ndadi, musik pun berangsur mempercepat tempo. Balunganing gending yang dipegang oleh angklung, bende dan jeder/bem, tetap memainkan gending yang sama tetapi dengan mempercepat tempo. Artinya bentuk gending nya tetap sama, temponya yang berubah. Hanya kendang yang memainkan pola permainan yang berbeda, ia menyesuaikan pukulannya dengan gerakan penari. Berikut notasi saat Ndadi yang berhasil dicatat:

Untuk format Jathilan Lancur klasik ini lagu-lagu yang dimainkan hanya lagu-lagu macapatan dan lagu-lagu karawitan jawa klasik saja. Mereka menjaga pertunjukan agar kesan dan rasa klasik nya tetap terjaga. Lagu-lagu silih berganti dengan musik tetap berjalan. Kadang lagu berhenti di suatu sesi pertunjukan sebagai penegasan pergelaran yang sedang berlangsung. Misalnya ketika ada seseorang yang Ndadi atau kejadian Ndadi bersama (beberapa orang) maka nyayian akan berhenti, agar fokus pertunjukan tertuju pada ketegangan Ndadi tadi.